The will

September 22, 2008

Angin kosong bertiup, semilir riuh rendah. Ada jiwa yang hampa disana, menyejukkan hati2 yang gelisah. Lambat laun malam kian larut, melebur menjadi satu dengan hitamnya kelam. Sepi angin kosong bertiup perlahan, senada dengan kesejukkan hati jiwa2 yang tenang.

Pandangan gue berlari ke masa 14 tahun yang lalu. Kala itu gue masih sangat kecil. Sering main sama anak tetangga. Yang mana bapaknya juga sering ngasi hadiah atau makanan buat gue. Berhubung pada saat itu keluarga tetangga gue itu lebih kaya dari keluarga gue. Keakraban yang sangat erat. Sampai saatnya harus dipisahkan jarak karena mereka hijrah ke kampung halaman.

Kini, ayah tetangga gue itu sudah berpulang. Semalam. Bokap gue jenguk kesana kemarin. Yang bernyawa memang pasti akan berpulang, entah kapan. Hanya amal yang jadi pegangan.

Angin sejuk bertiup mengiringi malam. Sahabat gue disana kini telah kehilangan ayah. Andai gue bisa ada disana..

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.